Analisis Gaya Komunikasi dr. Tirta dalam Menyampaikan Pesan Kesehatan melalui Segmen “Mitos & Fakta” pada Seri #Suaratirta di Kanal YouTube Tirta PengPengPeng

Main Article Content

Ibnu Dio Syaputra
Erman Anom

Abstract

Media sosial telah menjadi salah satu sumber utama informasi kesehatan, tetapi sekaligus mempercepat peredaran mitos dan misinformasi kesehatan sehingga dibutuhkan tenaga medis yang mampu mengklarifikasi informasi secara akurat, kredibel, dan mudah dipahami. Salah satu figur tersebut adalah dr. Tirta Mandira Hudhi melalui segmen “Mitos & Fakta” pada seri #suaratirta di kanal YouTube Tirta PengPengPeng. Penelitian ini bertujuan menganalisis karakteristik gaya komunikasi dr. Tirta dalam menyampaikan pesan kesehatan pada segmen tersebut berdasarkan sepuluh dimensi Communicator Style Robert W. Norton serta menjelaskan relevansinya dalam mendukung klarifikasi pesan kesehatan. Penelitian menggunakan paradigma interpretatif, pendekatan kualitatif, dan metode analisis isi kualitatif terhadap tiga video yang dipilih secara purposif dari unggahan Maret, April, dan Mei 2026 dengan total 31 subtopik. Data dikumpulkan melalui dokumentasi, pengamatan berulang, dan transkripsi unsur verbal dan nonverbal, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman serta diuji keabsahannya melalui triangulasi teori dan triangulasi waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesepuluh dimensi muncul dengan kadar dan konteks berbeda. Empat dimensi paling menonjol dan konsisten adalah Contentious (bantahan langsung dan argumentatif terhadap mitos), Precise (penjelasan medis yang rinci, sistematis, dan disertai batasan), Dramatic (analogi, humor, ilustrasi, dan contoh sehari-hari), serta Dominant (ketegasan intonasi, pilihan kata, dan kendali atas arah pembahasan). Animated, Impression Leaving, Relaxed, Attentive, Friendly, dan Open berperan sebagai dimensi pendukung, dengan Open sebagai dimensi paling situasional. Keempat dimensi utama bekerja secara saling melengkapi dalam membentuk pola klarifikasi pesan kesehatan yang tegas, terperinci, dan konkret; temuan ini terbatas pada konstruksi pesan dan tidak mengukur perubahan pengetahuan, sikap, perilaku, atau persepsi audiens.

Downloads

Download data is not yet available.

Article Details

Section

Articles

References

Alawiyah, T. (2022). Analisis gaya komunikasi Habib Husein Ja’far Al-Hadar dalam konten YouTube “Pemuda Tersesat” (Skripsi, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh). Diakses dari https://repository.ar-raniry.ac.id/id/eprint/26217

Alim, I. A., Caesar, R. F., & Nurhayani, I. (2026). The use of swear words in an influencer doctor health communication: A case study of dr. Tirta. Deskripsi Bahasa, 9(1), 76–94. https://doi.org/10.22146/db.22750

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia. (2024, Februari 7). APJII: Jumlah pengguna internet Indonesia tembus 221 juta orang. Diakses dari https://apjii.or.id/berita/d/apjii-jumlah-pengguna-internet-indonesia-tembus-221-juta-orang

Carter, N., Bryant-Lukosius, D., DiCenso, A., Blythe, J., & Neville, A. J. (2014). The use of triangulation in qualitative research. Oncology Nursing Forum, 41(5), 545–547. https://doi.org/10.1188/14.ONF.545-547

Elo, S., & Kyngäs, H. (2008). The qualitative content analysis process. Journal of Advanced Nursing, 62(1), 107–115. https://doi.org/10.1111/j.1365-2648.2007.04569.x

Firdaus, M. R., & Asy’ari, N. A. S. (2025). Analisis authentic personal branding dr. Tirta di Instagram dan TikTok. Jurnal Komunikasi Global, 14(1), 91–116. https://doi.org/10.24815/jkg.v14i1.45457

Harahap, H. R., Sinulingga, A. H., Marpaung, A. F., Syafitri, A., Hafiz, N., Nasution, S., & Azri, N. (2025). Studi kasus mengenai misinformasi pada media sosial. Gudang Jurnal Multidisiplin Ilmu, 3(1), 1102–1106. https://doi.org/10.59435/gjmi.v3i1.1412

Hsieh, H.-F., & Shannon, S. E. (2005). Three approaches to qualitative content analysis. Qualitative Health Research, 15(9), 1277–1288. https://doi.org/10.1177/1049732305276687

Huberman, A. M., & Miles, M. B. (Eds.). (2002). The qualitative researcher’s companion. Thousand Oaks, CA: Sage. https://doi.org/10.4135/9781412986274

Irawan, I., Azkiyah, L. N., Utomo, A. S., & Warhamni, D. (2023). Doctor Tirta’s branding as an influencer in the telemedicine program. Jurnal Mutakallimin: Jurnal Ilmu Komunikasi, 6(2). https://doi.org/10.31602/jm.v6i2.12933

Jasmine, I. L. P., & Rahmawati, F. N. (2025). Influencer digital sebagai agen komunikasi kesehatan studi peran dr. Tirta di era media sosial. Jurnal Media Akademik, 3(6). https://doi.org/10.62281/v3i6.2331

Kemp, S. (2025, Februari 25). Digital 2025: Indonesia. DataReportal. Diakses dari https://datareportal.com/reports/digital-2025-indonesia

Lewandowsky, S., Ecker, U. K. H., Seifert, C. M., Schwarz, N., & Cook, J. (2012). Misinformation and its correction: Continued influence and successful debiasing. Psychological Science in the Public Interest, 13(3), 106–131. https://doi.org/10.1177/1529100612451018

Lisanto, A. G., Zuhri, S., Claretta, D., & Suratnoaji, C. (2023). Peran akun Instagram @dr.tirta sebagai influencer dalam edukasi pencegahan COVID-19 di media sosial Instagram: Analisis isi konten Instagram @dr.tirta. LINIMASA: Jurnal Ilmu Komunikasi, 6(1), 1–15. Diakses dari https://journal.unpas.ac.id/index.php/linimasa/article/view/6084

Madathil, K. C., Rivera-Rodriguez, A. J., Greenstein, J. S., & Gramopadhye, A. K. (2015). Healthcare information on YouTube: A systematic review. Health Informatics Journal, 21(3), 173–194. https://doi.org/10.1177/1460458213512220

Marsanda, M. A., Rakhmad, W. N., & Naryoso, A. (2024). Hubungan kualitas informasi dan kredibilitas sumber informasi terhadap tingkat kepercayaan informasi kesehatan pada TikTok oleh Generasi Z. Interaksi Online, 12(3), 1022–1028. Diakses dari https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/interaksi-online/article/view/45720

Martianto, R. W. U., & Toni, A. (2021). Analisis semiotika gaya komunikasi milenial Bambang Soesatyo melalui YouTube podcast. Ekspresi dan Persepsi: Jurnal Ilmu Komunikasi, 4(1), 13–28. https://doi.org/10.33822/jep.v4i1.2351

Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative data analysis: A methods sourcebook (Edisi ke-3). Thousand Oaks, CA: Sage.

Moleong, L. J. (2021). Metodologi penelitian kualitatif (Edisi revisi). Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Osman, W., Mohamed, F., Elhassan, M., & Shoufan, A. (2022). Is YouTube a reliable source of health-related information? A systematic review. BMC Medical Education, 22, 382. https://doi.org/10.1186/s12909-022-03446-z

Patton, M. Q. (1999). Enhancing the quality and credibility of qualitative analysis. Health Services Research, 34(5, Bagian 2), 1189–1208. Diakses dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1089059/

Prana, K., & Sunarto. (2025). Pengaruh terpaan konten hoaks isu kesehatan di media sosial dan tingkat literasi digital masyarakat terhadap tingkat kepercayaan masyarakat menggunakan Facebook. Interaksi Online, 13(2), 1–10. Diakses dari https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/interaksi-online/article/view/49857

Rahman, M. F., & Yulianita, N. (2024). Gaya komunikasi kesehatan apoteker di media sosial: Analisis semiotika Roland Barthes pada akun Instagram @apoteker_rahmato. Citizen: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, 4(3), 135–148. https://doi.org/10.53866/jimi.v4i3.594

Ramadhani, R., Riyantini, R., Emiliana, M., & Hervira, D. P. (2023). Analisis isi pesan persuasif dalam konten media sosial TikTok @Rubicommunity mengenai kampanye pemberdayaan perempuan. Communicology: Jurnal Ilmu Komunikasi, 11(2), 178–191. https://doi.org/10.21009/COMM.1102.02

Rasyid, A. U. M., Hanika, I. M., Asriwati, Mahadewi, E. P., Roswandani, S., Burhan, A., . . . Nurbaity. (2021). Komunikasi kesehatan. Bandung: Widina Bhakti Persada.

Rizky, N. I., & Agustina, S. N. (2026). Komunikasi persuasif dalam edukasi kesehatan: Analisis wacana kritis terhadap gaya dr. Gia Pratama dan dr. Tirta. DEIKTIS: Jurnal Pendidikan, Bahasa dan Sastra, 6(3), 3523–3531. https://doi.org/10.53769/deiktis.v6i3.4196

Suarez-Lledo, V., & Alvarez-Galvez, J. (2021). Prevalence of health misinformation on social media: Systematic review. Journal of Medical Internet Research, 23(1), e17187. https://doi.org/10.2196/17187

Sugiyono. (2019). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Vraga, E. K., & Bode, L. (2017). Using expert sources to correct health misinformation in social media. Science Communication, 39(5), 621–645. https://doi.org/10.1177/1075547017731776

Vraga, E. K., Kim, S. C., & Cook, J. (2019). Testing logic-based and humor-based corrections for science, health, and political misinformation on social media. Journal of Broadcasting & Electronic Media, 63(3), 393–414. https://doi.org/10.1080/08838151.2019.1653102

Walter, N., Brooks, J. J., Saucier, C. J., & Suresh, S. (2021). Evaluating the impact of attempts to correct health misinformation on social media: A meta-analysis. Health Communication, 36(13), 1776–1784. https://doi.org/10.1080/10410236.2020.1794553

Wang, Y., McKee, M., Torbica, A., & Stuckler, D. (2019). Systematic literature review on the spread of health-related misinformation on social media. Social Science & Medicine, 240, 112552. https://doi.org/10.1016/j.socscimed.2019.112552