Representasi Perundungan dan Pencarian Keadilan dalam Novel Bisikan Daun Jatuh Karya Wahyudi Pratama
Main Article Content
Abstract
Karya sastra berfungsi sebagai cerminan kehidupan sosial yang mampu merekam fenomena seperti perundungan dan pencarian keadilan dua persoalan mendesak dalam masyarakat Indonesia kontemporer. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk-bentuk perundungan dan representasi pencarian keadilan dalam novel Bisikan Daun Jatuh karya Wahyudi Pratama, yang menghadirkan kasus perundungan yang diselidiki dalam latar lembaga bantuan hukum kampus. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan landasan teori sosiologi sastra. Data primer berupa alur cerita, tindakan tokoh, serta dialog yang berkaitan dengan perundungan dan pencarian keadilan dikumpulkan melalui pembacaan mendalam (close reading) secara berulang, kemudian dianalisis dengan mengklasifikasikan data ke dalam kategori yang telah ditentukan, menafsirkan makna tersurat dan tersirat, serta menghubungkannya dengan teori perundungan dan teori keadilan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel ini merepresentasikan perundungan sesuai definisi Olweus sebagai tindakan agresif berulang akibat ketimpangan kekuasaan, yang terwujud dalam tiga bentuk: perundungan fisik (kekerasan, pengurungan paksa, perusakan barang), perundungan verbal (makian, penyebaran isu, ancaman), serta perundungan psikologis/sosial (pengucilan, pengawasan berlebihan, dan tekanan untuk bungkam), yang masing-masing menimbulkan dampak berbeda dan berjangka panjang bagi korban. Novel ini juga menggambarkan pencarian keadilan sebagai proses tidak linear yang terdiri atas empat tahap penyadaran diri, pencarian dukungan, penuntutan hukum dan moral, serta pencapaian kebenaran yang masing-masing penuh rintangan, termasuk sistem hukum yang tidak selalu berpihak pada kebenaran. Penelitian ini menyimpulkan bahwa novel berfungsi sebagai kritik sosial yang menonjolkan pentingnya keberanian melawan penindasan dan membela kebenaran demi terciptanya kehidupan yang lebih adil dan manusiawi.
Downloads
Article Details
Section

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
References
Berliana, B., & Trianton, T. (2022). Representasi perundungan dalam novel Manusia-Manusia Teluk karya Artie Ahmad. Kibas Cenderawasih, 19(2), 218–234. https://doi.org/10.26499/kc.v19i2.335
Faruk. (2015). Pengantar sosiologi sastra: Dari strukturalisme genetik sampai post-modernisme (Edisi revisi). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Fitri, A., Naibaho, L., Seriana, & Sitorus, F. R. (2023). Representasi perundungan (bullying) pada novel Dan Hujan pun Berhenti karya Farida Susanty: Pendekatan sosiologi sastra. BIP: Jurnal Bahasa Indonesia Prima, 5(1), 37–51. https://jurnal.unprimdn.ac.id/index.php/BIP/article/view/3374
Nurgiyantoro, B. (2013). Teori pengkajian fiksi (Edisi kedua, cetakan ke-10). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Olweus, D. (1993). Bullying at school: What we know and what we can do. Oxford: Blackwell Publishing.
Pratama, W. (2025). Bisikan daun jatuh. Akad Media Cakrawala.
Pusat Bahasa Kemendikbudristek. (n.d.). Perundungan. Dalam KBBI Daring. Diakses dari https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/perundungan
Rawls, J. (2006). Teori keadilan: Dasar-dasar filsafat politik untuk mewujudkan kesejahteraan sosial dalam negara (U. Fauzan & H. Prasetyo, Terj.). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. (Karya asli terbit 1971)
Rizqi, H., & Inayati, H. (2019). Dampak psikologis bullying pada remaja. Wiraja Medika: Jurnal Kesehatan, 9(1). https://doi.org/10.24929/fik.v9i1.694
Suryadi, I., Hayati, Y., & Nasution, M. I. (2018). Fenomena perundungan dalam novel Ayah, Mengapa Aku Berbeda karya Agnes Davonar. Jurnal Bahasa dan Sastra, 6(2), 157–163. https://doi.org/10.24036/81023050